/1/
Akulah daun, yang kau buang dari rantingmu dulu
Kutolak ajakan angin yang hendak menerbangkanku
Karena aku tak rela meninggalkanmu
Wahai pohon yang membuangku
Maka disinilah aku
Tergeletak di bawah kakimu
Kubiarkan diriku membusuk
Untuk kemudian diserap tanah
Lalu menyuburkanmu
Pohon yang membuangku
/2/
Aku pohon. Aku menatap daun yang baru saja jatuh dari rantingku.
Ia terlihat tegar, walaupun kesedihannya tidak dapat tertutupi.
Sekilas kudengar angin mengajaknya untuk pergi bersama, tapi ia menolak, ingin tetap di sini katanya, membusuk, terserap tanah, dan menyuburkanku, pohon yang membuangnya.
Aku menangis mendengar kata-katanya. Bukan hanya karena pengorbanannya, tapi karena keadaan yang membuat aku harus membiarkan dia berpikir aku sengaja membuangnya, padahal tak pernah sekalipun aku ingin melepaskan daun itu dari rantingku. Bahkan jika Tuhan mengizinkan, akan kulepaskan seluruh daun lain di rantingku hingga tersisa dia saja.
Tapi mana bisa aku menawar Tuhan?
Wahai daun yang kulepaskan, aku biarkan kau berpikir aku membuangmu. Tapi aku menunggu-menunggu saat kau diserap tanah, lalu merambat masuk dari akar ke batangku. Akan kuhayati keberadaan dirimu di dalam tubuhku. Karena mungkin, inilah cara Tuhan mempersatukan kita.
/3/
Kisah yang terselip antara daun dan pohon
Namaku angin. Padang rumput ini adalah tempat tinggalku.
Ya, aku tahu, angin tidak seharusnya memiliki tempat tinggal.
Teman-temanku yang lain sering berkelana dari satu tempat ke tempat lain.
Karena itu yang dilakukan angin, kami bebas berhembus kemanapun kami suka
Aku juga pengelana, dulu!
Lalu di padang ini pengelanaanku terhenti, karena selembar daun yang hijaunya berbeda dari daun manapun yang pernah kutemui.Lalu aku menetap di sini, menjadi pengagumnya yang paling setia. Aku tentu saja punya banyak teman sesama angin. Sudah banyak angin yang singgah di padang rumput ini, dan tiap akan pergi melanjutkan perjalanan, mereka selalu mengajakku serta berkelana. Tapi aku tetap setia pada padang rumput tempat tinggalku ini. Maka mereka menyebutku angin yang aneh. Padahal aku tak aneh, aku hanya jatuh cinta.
Suatu hari yang cerah, seperti biasa aku bermain di sekitar pohon tempat daunku tinggal. Ia tak seceria biasanya, ia tampak sedih. Aku berputar di sekitar pohon, ingin tahu kemalangan apa yang menimpanya. Tapi betapa terkejutnya aku ketika daun itu tiba-tiba terlepas dari ranting sang pohon. Aku terdiam memandangi sang daun yang kini tergeletak di tanah. Ia bebas sekarang, tak lagi tergantung di ranting pohon. Ini kesempatanku untuk melanjutkan pengelanaan, tanpa kehilangan alasan utamaku berhenti berkelana. Maka kuhampiri sang daun, mencoba mengajaknya ikut berkelana bersamaku. Tapi kudapati jawabannya membuat hatiku teriris
“Maaf angin, andai saja aku bisa. Aku terlalu mencintai pohon yang baru saja membuangku ini. Dan aku takkan menyerah mencintainya. Aku akan tetap di sini, di kakinya sampai membusuk dan diserap tanah, lalu menyuburkannya, pohon yang membuangku”
Maka aku memutar tubuhku, tak sanggup lebih lama menyaksikan daun terindahku terluka, apalagi sampai membusuk demi pohon yang membuangnya.
Namaku angin.
Dan kini aku kembali bergabung dengan kawananku, melakukan apa yang dilakukan angin, berkelana!
Credit
Credit

0 comments:
Post a Comment