Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama, dan cerita adalah hanya faktor kebetulan belaka dan tidak ada unsur kesengajaan.
Nisa sudah berdiri di balik meja kasir sebuah distributorl selama berjam-jam dengan pakaian berwarna biru menunggu para selesman ataupun droping yang akan setoran. Dia sedang menulis sesuatu di buku jurnalnya ketika seorang cowok berberseragam abu-abu dengan sebuah tas yang melingkar dibahunya membawa beberapa tagihan berjalan ke meja kecil didepan meja kasir. Dia dapat melihat dari sudut matanya cowok itu menuliskan nominal tagihan pada selembar kertas DCR lengkap dengan TTSnya. Untuk sejenak cowok itu hanya berdiam diri sambil mendengarkan lagu ditelinganya.
Nisa menggantung ujung penanya di jari sambil memikirkan hal apa saja yang menurutnya menarik untuk ditulis di jurnal pribadinya itu. tak sengaja dia memandang wajah cowok yang masih serius dengan cash - cashanya. Wajah cowok itu terlihat seperti bercahaya. Hidung, mata, poni dan bibirnya terlihat sangat sempurna. Sempat terbesit dipikirannya betapa beruntung cowok itu memiliki wajah sempurna, dan jika dilihat sepertinya cowok itu juga mempunyai kehidupan yang sempurna. Dia tersadar dari lamunannya ketika tangan cowok itu bergerak membuka tas yang dibawanya, dia segera berpura-pura sibuk dengan jurnalnya. Dalam hati dia sangat malu karena hampir ketahuan sedang memperhatikan cowok itu.
Cowok itu meletakkan DCR itu diatas meja kasir dan mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
NIsa segera berdiri dan menghitung berapa yang harus dibayarkan sang cowok tersebut, dia memandang layar komputer dengan hati-hati. Dia masih merasa sedikit grogi. “Rp. 40.000.000..” ucapnya pelan, dia menghindari tatapan mata cowok itu.
Cowok itu memberikan uangnya pada Nisa. Dia merasakan keanehan sikap Nisa. Dia memandang bayangan wajahnya di kaca transparan yang menjadi dinding ruangan itu, memastikan tak ada yang aneh pada wajahnya. Namun tak ada apapun yang membuat wajahnya terlihat janggal.
Nisa segera membungkus uang tadi dan memberikan bukti pembayaran pada cowok itu bersama dengan kembaliannya. “Ini, terima kasih dan silahkan kembali lagi..” ucapnya pelan. Sekilas dia memandang kedua bola mata cowok itu. bola matanya berwarna coklat muda, sangat mengagumkan.
Cowok itu tersenyum, “Thank’s..” dia mengambil bukti dan uang kembaliannya, lalu segera melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Nisa sempat memandangi cowok itu untuk beberapa saat, lalu dia kembali memandang jurnalnya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi yang berhubungan dengan cowok itu, tapi dia berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh.
“Jangan terlalu memperhatikan.. Nanti patah hati..” Goda Maya, rekan tempatnya bekerja sambil berlalu dengan senyuman khasnya.
Nisa hanya tersenyum tipis sambil menundukkan wajah.
Nisa pulang seorang diri diantara gelapnya malam. Jalanan belum terlalu sepi. Dia merapatkan jaketnya sambil memastikan sekeliling. Dingin terasa sangat menusuk kulit. Dia mempercepat laju motornya agar segera sampai ke rumahnya.
Nisa membaringkan tubuhnya diatas kasur. Memandang langit-langit kamarnya. Tiba-tiba dia teringat wajah cowok tadi, wajah yang seperti bercahaya yang telah menarik perhtiannya. Dia baru menyadari kalau dia adalah remaja. Tapi apa yang harus dia lakukan?? Berlaku seperti remaja lain yang menghabiskan uang di mall bersama teman-teman mereka, atau memiliki kekasih tampan yang selalu mereka pamerkan kemana-mana? Sudah pasti dia tak bisa melakukan itu semua. Hidupnya hanya bisa diisi oleh kerja keras untuk menyambung hidup. Rasanya dia tak berhak mendapatkan itu semua.
Tapi.. bayangan cowok itu membuat hatinya bergetar.
***

0 comments:
Post a Comment